In the Name of Allâh the Most Beneficent the Most Merciful.

سْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم YaAllah janganlah kau uji apa yang tidak termampu aku lalui ٩(-̮̮̃-̃)۶٩(•̮̮̃•̃)۶When You Are HURT, You Learn To HATE..On The Other Hand, When You Hurt Someone, You Are RESENTED..BUT You Start To FEEL GUILTY As Well..However, Understanding Such Pain Enables YOU to Be KIND to Others..KNOWING PAIN Helps us GROW UP, to MATURE.. ٩(-̮̮̃•̃)۶٩(•̮̮̃•̃)۶ We should be taught not to wait for inspiration to start a thing. Action always generates inspiration. Inspiration seldom generates action٩(●̮̮̃•̃)۶ ٩(͡๏̯͡๏)۶yaAllah..berikanlah aku kekuatan mennempuhi segala cabaran dan dugaan..aku lemah tanpaMU..٩(●̮̮̃•̃)۶ ٩(͡๏̯͡๏)۶Starting over isn't crazy. Crazy is being miserable. and walking around half asleep, numb, day after day after day. Crazy is pretending to be happy. Pretending that the way things are is the way they have to be for the rest of your bleeding life.٩(●̮̮̃•̃)۶ If she's amazing, she wont be easy. If she's easy, she wont be amazing. If she's worth it, you wont give up. If you give up, you are not worthy. The truth is, everybody is going to hurt you; you just gotta find the ones worth suffering for -Bob Marley :٩(͡๏̯͡๏)۶..Mohon maaf atas segala salah silap.. Ikhlas dari MOHD SHUIB ABD RAHMAN..
Showing posts with label islamic. Show all posts
Showing posts with label islamic. Show all posts

Friday, June 18, 2010

The Gaza Freedom Flotilla Video of Israeli Attack Raw

in the name of Allah the Most Gracious the Most Merciful


to download the mentioned video please click here






walaupun pihak Israel berusaha untuk menghapuskan segala rakaman dan gambar yang diambil semasa serangan, pembuat filem Iara Lee dari CULTURES OF RESISTANCE berjaya menyeludup video yang panjangnye sejam ke Amerika Syarikat dan diterbitkan tanpa diedit pada 11 June 2010.
dalam keterangan akhbarnya dia berkata:

"I want first to thank the United Nations Correspondents Association for organizing this event on such short notice.

"My name is Iara Lee. I am a dual U.S.-Brazilian citizen of Korean descent. I am a filmmaker and a human rights activist.

"I decided to join the Freedom Flotilla after going to Gaza a few months ago and seeing first hand the devastation there. After hearing the pleas of the people living in Gaza to have the blockade lifted, I felt I must do something.

"The Gaza Freedom Flotilla was on a humanitarian mission.Ê We expected to be deterred from delivering our aid to Gazans, but we did not expect to be attacked.

"We started filming from the moment we boarded the Mavi Marmara right through the Israeli assault on the ship. Although all of our equipment was confiscated, we managed to smuggle this footage out.

"Mine is high-definition footage of the Flotilla attack and also the only sustained footage of the ship and its passengers preceding the deadly Israeli commando raid. Watching this raw, unedited footage, you will get a sense of the mood on the ship and of the passengers on it.

"Undoubtedly, many of you will be scrutinizing it for clues to resolve the mysteries that still surround what happened that fateful night.

"During this past week the Israeli government has repeatedly alleged that these passengers -- or some of them -- laid a trap for Israel, duped the Israeli military, and plotted a lynching. Israel has repeatedly alleged that we were anti-Semitic Muslim fanatics connected to terrorist organizations.

"In fact, the passengers on our mission came from many countries and religious and ethnic backgrounds.Ê Our one common denominator was that we wanted to end the humanitarian crisis in Gaza by highlighting the injustice of Israel's blockade.

"Prime Minister Netanyahu said, "This wasn't the 'love boat,' this was a flotilla of terror supporters." Our footage will help you decide whether we were a love boat or a hate boat. You will see secular and devout passengers. You will see people at prayer and people working at their laptops.

"Was this a lynch-mob moved by hatred of Israelis or was it a cross-section of humanity moved by the plight of Gaza? Did we lay a trap for the Israeli commandos or did they unnecessarily attack us? Did we take them by surprise or did they take us by surprise?

"Do you see a premeditated ambush, or do you see some passengers using items at hand to protect themselves from an unprovoked assault by heavily armed commandos?

"You decide."



Friday, June 4, 2010

kisah haiwan itu : rezeki

rezeki itu milik Allah




1. In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

2. Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the worlds;

3. Most Gracious, Most Merciful;

4. Master of the Day of Judgment.

5. Thee do we worship, and Thine aid we seek.

6. Show us the straight way,

7. the way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray.



Wednesday, May 12, 2010

“Robbanâ” Dalam Al-Qur'an

“Robbanâ” Dalam Al-Qur'an

Di antara tata krama berdoa di dalam Islam, dianjurkan kita berdoa dengan menggunakan teks-teks yang termaktub di dalam Al-Qur'an. Hal itu dikarenakan kita ingin berbicara dan mengungkapkan keinginan kepada Allah, dan—tentunya—juga memerlukan ungkapan-ungkapan yang sesuai dengan Dzat-Nya Yang Maha Suci.

Kali ini, kami telah mengumpulkan teks-teks doa yang dimulai dengan ungkapan “Robbanâ” yang kami kumpulkan dari beberapa surah di dalam Al-Qur'an. Menurut hemat kami, doa-doa ini sangat layak untuk kita baca mengingat pembuat ungkapan-ungkapan tersebut adalah Allah sendiri yang mengetahui bagaimana dan dengan menggunakan bahasa apa Ia bisa dimohon. Selamat menyimak, dan jangan lupa mendoakan kami.

a. Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari api neraka.” (QS. al-Baqarah: 201)

b. Doa Kesabaran dan Kemenangan

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Curahkanlah atas kami kesabaran, kokohkanlah kaki kami, dan tolonglah kami [melawan] orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 250)

c. Doa Pembebas Beban

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَ اعْفُ عَنَّا وَ اغْفِرْ لَنَا وَ ارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau azab kami jika kami lupa atau bersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau timpakan atas kami beban yang pernah Kau bebankan atas orang-orang sebelum kami dan janganlah Kau bebankan atas kami apa yang kami tidak mampu untuk [memikul]nya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Tuan kami. Maka, tolonglah kami [melawan] orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 286)

d. Doa Pemelihara Hidayah

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami! Jangalah Kau sesatkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami dan anugrahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi anugrah.” (QS. Ali ‘Imran: 8)

e. Doa Pembebas Doa dan Peneguh Pendirian

ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ إِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا و انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Ampunilah dosa-dosa dan keberlebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah kaki [baca: pendirian] kami, dan tolonglah kami [melawan] orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran: 147)

f. Doa Pembebas Dosa dan Penutup Kejelekan

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِيْ لِلْإِيْمَانِ أَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الْأبْرَارِ

“Wahai Tuhan kami! Kami telah mendengar [suara] seorang penyeru yang menyeru kepada keimanan [seraya berkata], ‘Berimanlah kepada Tuhan kalian!’ Lalu, kami beriman. Wahai Tuhan kami! Ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah kejelekan-kejelekan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 193)

g. Doa Pengusir Kehinaan

رَبَّنَا وَ آتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

“Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami apa yang telah Kau janjikan kepada kami melalui para utusan-Mu dan janganlah Kau hinakan kami pada hari Kiamat, karena sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.” (QS. Ali ‘Imran: 194)

h. Doa Pengampun Dosa dan Pendatang Rahmat

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَ إِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَ تَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 23)

i. Doa Penolak Kelaliman

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau jadikan kami bersama orang-orang yang lalim.” (QS. al-A’raf: 47)

j. Doa Pembuka Kebenaran

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَ أَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Bukalah [baca: hukumilah] antara kami dan kaum kami dengan kebenaran, dan Engkau adalah sebaik-baik penentu hukuman.” (QS. al-A’raf: 89)

k. Doa Kesabaran

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Curahkanlah kesabaran atas kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim.” (QS. al-A’raf: 126)

l. Doa Pelindung dari Kelaliman

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَ نَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau jadikan kami dilalimi oleh orang-orang zalim dan selamatkanlah kami demi rahmat-Mu dari [cengkeraman] orang-orang kafir.” (QS. Yunus: 85-86)

m. Doa Penurun Rahmat dan Keselamatan

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan datangkanlah jalan keselamatan bagi kami.” (QS. al-Kahfi: 10)

n. Doa untuk Keluarga

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah kepada kami istri dan keturunan kami sebagai kebahagiaan [bagi kami] dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74)

o. Doa untuk Sesama

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَ عِلْمًا، فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوْا وَ اتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَ قِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ

“Wahai Tuhan kami! Rahmat dan ilmu-Mu telah meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari neraka Jahim.” (QS. al-Ghafir: 7)

p. Doa Penyingkir Siksa

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُوْنَ

“Wahai Tuhan kami! Singkirkanlah siksa dari kami, karena sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman.” (QS. ad-Dukhan: 12)

q. Doa Penyingkir Kedengkian

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangalah Kau tanamkan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Mahakasih dan Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

r. Doa Penyempurna Cahaya

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَ اغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Wahai Tuhan kami! Sempurnakanlah cahaya kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. at-Tahrim: 8)

Doa-doa Nabi Musa as

Doa-doa Nabi Musa as

1) Salah satu kisah panjang al-Qur’an Karim adalah kisah nabi Musa as dan Fir’aun. Para ahli ta’bir (takwil) mimpi dan ahli nujum berkata kepada Fir’aun: Akan segera lahir seorang putera yang akan menghancurkan kerajaan dan kekuasaanmu. Dengan berita menakutkan ini, Fir’aun kemudian bertindak supaya nabi Musa as tidak menapakkan kaki ke muka dunia. Akan tetapi dengan kehendak Ilahi dan meskipun keinginan Fir’aun lain, nabi Musa as membuka matanya ke dunia ini dan dengan mukjizat Ilahi beliau as tumbuh dan besar di sekitar Fir’aun dan ketika beliau as mulai menjadi pemuda kekar Allah swt menganugerahkan ilmu dan hikmah.

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.

Pada saat itu nabi Musa as berubah dan mengangkat tangan berdoa seraya berkata:

رَبِّ إِنّى‏ ظَلَمْتُ نَفْسى‏ فَاغْفِرْ لى

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.”[1]

Maka Allah swt pun mengampuni beliau as.

Nabi Musa as tetapi juga berdoa dan mengatakan:

رَبِّ بِما أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكونَ ظَهيراً لِلْمُجْرِمينَ

“Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”[2]

Mak keesokan harinya nabi Musa as di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Di lain pihak ia menghadap kepada nabi Musa as dan mengatakan: Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian!

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah dari kota ini!

Maka keluarlah nabi Musa as dari kota itu dengan berhati-hati dan waspada dan beliau as berdoa demikian:

رَبِّ نَجِّنى‏ مِنَ القَوْمِ الظَّالِمينَ

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.”[3]

Dan setelah itu tatkala nabi Musa as menghadap ke jurusan negeri Madyan, kota nabi Syu’aib as, beliau as berjalan menuju ke sana dan berdoa lagi:

عَسى‏ رَبّى‏ أَنْ يَهْدِيَنى‏ سَواءَ السَّبيلِ

“Mudah-mudahan Tuhanku memberikan hidayat kepadaku ke jalan yang benar”.[4]

2) Nabi Musa as sampai ke negeri Madyan. Beliau as menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan beliau as menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat ternaknya dan dalam penantian. Nabi Musa as mendekat kepada mereka dan bertanya: Kenapa kalian berdiri di sini? Kedua wanita itu menjawab: Kami tidak dapat meminumkan ternak kami, sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan ternaknya.

Maka nabi Musa as karena tugas Ilahi dan semacam persahabatan menuju ke sumur, menimba air dan memberi minum ternak itu. Mereka berdua lalu pergi dan lebih cepat sampai di rumah dari hari-hari biasa.

Nabi Musa as yang merasa asing di negeri Madyan dan tidak dapat pergi ke mana-mana menuju ke bawah pohon yang rindang untuk berteduh untuk menghilangkan rasa lelah dan karena tidak membawa bekal dan makanan beliau as mengangkat tangan berdoa kepada Allah swt:

رَبِّ إِنّى‏ لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقيرٌ

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”[5]

Doa nabi Musa as terkabulkan. Puteri-puteri nabi Syu’aib yang pulang ke rumah lebih cepat dari hari-hari biasanya menceritakan kepada sang ayah kejadian seorang pemuda tak dikenal yang menolong mereka.

Nabi Syu’aib mengirim salah seorang di antara mereka berdua untuk mencari dan membawa nabi Musa as ke hadapan beliau. Nabi Musa as datang ke rumah nabi Syu’aib. Mereka menyambut dan menjamu beliau as dan karena mereka melihat kemampuan, kejujuran dan amanat beliau as mereka menerimanya dengan hangat. Maka nabi Musa as menjadi menantu nabi Syu’aib, beristeri dan hidup berkeluarga.

Walaupun di dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa nabi Musa as ketika berdoa pada waktu itu membutuhkan sepotong roti, akan tetapi doa ini tidak khusus untuk mengharapkan roti dan makanan, namun untuk seluruh kebutuhan. Dalilnya adalah setelah doa ini nabi Musa as memiliki segala sesuatu.

3) Nabi Musa as selama beberapa waktu tinggal di negeri Madyan sesuai dengan perjanjian dengan nabi Syu’aib dan setelah itu nabi Musa as dengan membawa keluarga, gembalaan dan harta bendanya menuju ke negeri Mesir hingga sampai di Thur Sina. Di sana memancarlah seberkas cahaya dari kejauhan. Beliau as menuju ke arahnya untuk mengambilnya sebagai penghangat keluarga. Cahaya itu adalah manifestasi Allah swt yang menjelma dalam pohon. Di sanalah terjadi kejadian terbesar dalam kehidupan nabi Musa as yaitu risalah beliau as. Nabi Musa as diangkat menjadi nabi dan dianugerahkan pula kepadanya mukjizat sebagai bukti kebenaran klaim beliau as.

Permulaan tugas dan risalah beliau as dideklarasikan untuk pergi ke istana Fir’aun, memberikan peringatan dan mengajaknya menuju kepada Allah swt.

Pada saat itu ketika nabi Musa as mendapati tugas sebagai sebuah hal yang berat menghadap kepada Allah swt dan berdoa:

رَبِّ اشْرَحْ لِى‏ صَدْرِى‏ * وَيَسِّرْ لِى‏ أَمْرِى * وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسانِى * يَفْقَهُوا قَوْلِى * وَاجْعَلْ لِى‏ وَزِيراً مِنْ أَهْلِى * هرُونَ أَخِى * اُشْدُدْ بِهِ أَزْرِى * وَأَشْرِكْهُ فِى‏ أَمْرِى * كَىْ نُسَبِّحَكَ كَثِيراً *وَنَذكُرَكَ كَثِيراً * إِنَّكَ كُنْتَ بِنا بَصِيراً

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.”[6]

Allah swt memberikan jawaban: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”[7]

Setelah itu Allah swt mengajarkan metode menghadapi Fir’aun kepada nabi Musa dan nabi Harun sebagai berikut: “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”[8]

Nabi Musa dan nabi Harun as mengatakan:

رَبَّنا إِنَّنا نَخافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنا اَوْ أَنْ يَطْغى

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.”[9]

Allah swt memberikan jawaban: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”[10]


[1] QS. Al-Qashash [28]: 16.

[2] QS. Al-Qashash [28]: 17.

[3] QS. Al-Qashash [28]: 21.

[4] QS. Al-Qashash [28]: 22.

[5] QS. Al-Qashash [28]: 24.

[6] QS. Thaha [20]: 25 – 35.

[7] QS. Thaha [20]: 36.

[8] QS. Thaha [20]: 43 – 44.

[9] QS. Thaha [20]: 45.

[10] QS. Thaha [20]: 46.

Sunday, April 4, 2010

MASA DEPAN


In the Name of Allâh, the Most Beneficent, the Most Merciful

hampir seminggu rasanya sejak aku mnghantar final draf FYP aku yg bertajuk:
Experimental Work on Electromagnetic Radiation Measurement by Electrical Devices

Proper evaluation and assessment of possible health effects from long-term exposure to Electromagnetic fields (EMF) are important because human exposure to such fields is increasing due to new and emerging technologies. This project will assess the emf radiation and compare with the WHO and other organization reports on the effect of emf to human life.

1. Measurement of EMF for different personal computers used at several Mechatronic Labs. The measurement is taken for different area of lab.
2. Measurement of EMF for different laptops used by students of School Mechatronic Engineering. The measurement is taken for different period of time and different distance from the source
3. Measurement of EMF for different laptops used by students of School Mechatronic Engineering - with/without screen cover and with/without wireless internet for laptop.


1. Ability to measure emf from electrical devices
2. Ability to analyze data collected from the measurement
3. Ability to connect the findings to the possible health effect for long-term exposure and support the results by referring to WHO and ICNIRP report

Hardware:
EMF meter
Laptop
Computer
Computer’s screen cover
Ruler tape



actually aku masih lagi tidak berpuashati dengan hasil kerja laporan FYP yg telah aku serahkan...masih terdapat terlalu banyak masalah, kesilapan dan pembetulan yang sendiri rasakan menyebabkan aku tidak dapat lena tidur malam...

disamping mimpi ngeri aku yang ntah pape merepek..aku menjadi kurang faham...

adakah ini simptom final year student??
aku termenung memikirkan masa depan yang masih jauh...

"usahlah kita risau memikirkan masa depan..tetapi risaulah apabila kita tidak berfikir untuk masa depan" - Tun Dr Mahathir Muhammad

so aku berfikir mengenai masa depan..dan aku tenyata takut memikirkannya..sudah semestinya aku risau kerana keadaaan ekonomi yang baru pulih..ditambah pula dengan status ijazah aku yang masih belum diiktiraf oelh EAC_BEM dan MQA..so apakah halatuju perjalanan hidup aku selepas tamat pengajian ini?????


aku menjadi tertekan...

apakah harga 4 tahun aku belajar di sini???

apakah ilmu yang aku perolehi di sini???

apakah yang aku mampu buat hasil 4 tahun di sini???

ternyata aku akui aku masih lagi mempunyai ilmu budak lepasan SPT yang masih tidak apa-apa...


hebatkan autocad aku??
matlab???
orchad???
microP microC???

hebatkah final year project aku???????

aku berasa amat tertekan..serius aku menyatakan kehidupan universiti hanya penuh dgn bermain..menyertai aktiviti yanng tiada manfaat...


apa yang aku belajar hanyalah erti kehidupan..

namun aku masih lag mencari apakah makna kehidupan itu..TUJUAN aku hidup..for whta purpose???pernah aku mengePOST "WHAT IS THE PURPOSE OF LIFE????" dalam longe "iluvislam.com" namun apa yang aku dapat??hanya private mail yang menghentam..

“.....Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku....” [Ad-Dzariyat: 56]


so aku tengah buntu dengan masa depan aku sendiri sebenarnya..sambil aku menunggu keputusan penangguhan program yang rasa terlalu amat aku ingin pergi..walaupun aku tak tahu apa yang akan aku lalui..namun aku merasakan ia baik utk aku...

tapi aku menjadi terlalu amat BLUR...aku menjadi amat memerlukan bantuan..aku perlu bantuanMu yaAllah..


aku rndu dia yaAllah..aku mahu kau makhbulkan doa yang terlalu simple aku baca tatkala aku selesai sujud padaMU....

"yaAllah..kurniakanla aku kjebaiakan didunia dan di akhirat"

yaAllah permudahkanlah segala urusanku..tutupkanlah keAiBan ku yaAllah...lindungilah aku yaAllah..

aku hambaMu yang lemah, maka kuatkanlah aku yaAllah..
aku hambaMu yang hina, maka muliakan lah aku yaAllah...


--hatiku menangis memikirkan masa depan yang tidak pasti--


Al Qiyammah 75:36
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)

Al Baqarah 2:21
. Hai manusia, sembahlah Tuhan-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.

Qs Al hajj 22:1
Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).











Tuesday, April 7, 2009

Doa Melembutkan Hati

1) Melembutkan hati anak yang degil dan keras

Hendaklah membaca surah Taa'haa dari ayat satu hingga enam dan juga surah Al-Hajj ayat dua puluh satu dibaca di atas permukaan air dalam gelas putih dan diminum oleh anak yang dimaksudkan


[1] Taa' Haa [2] Kami tidak menurunkan Al-Quran kepadamu (wahai Muhammad) supaya engkau menanggung kesusahan [3] Hanya untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang takut melanggar perintah Allah [4] (Al-Quran) diturunkan dari (Tuhan) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi [5] Iaitu (Allah) Ar-Rahman, yang bersemayam di atas Arasy [6] Dia lah jua yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi serta yang ada di antara keduanya dan juga yang ada di bawah tanah basah di perut bumi


[21] Dan mereka pula disediakan batang-batang besi untuk menyeksa mereka

(2) Doa Membuat Hati Suami/Isteri/Anak-Anak/Saudara Mara/Sahabat menjadi Penyayang

Hendaklah membaca surah Al-Baqarah ayat 165 dan apabila selesai hembuskan dikening orang yang kita sayangi itu

(Walaupun demikian), ada juga di antara manusia yang mengambil selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah; sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak, bahawa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan bahawa sesungguhnya Allah Maha berat azab seksaNya, (nescaya mereka tidak melakukan kezaliman itu)


(3) Ayat pelembut hati untuk berjumpa orang yang kita hajati

Hendaklah membaca surah At-Taubah ayat 128 sehingga 129 semasa berjumpa atau bertentang mata

[128] Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad s.a.w), yang menjadi sangat berat kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat tamak (inginkan) kebaikan bagi kamu, (dan) ia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman [129] Kemudian jika mereka berpaling ingkar, maka katakanlah (wahai Muhammad): "cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; kepadaNya aku berserah diri, dan Dia lah yang mempunyai Arasy yang besar"

Sunday, March 1, 2009

solat and yoga

The “Yoga” of Islamic Prayer
By Karima Burns, MH, ND
http://www.islamichealingnetwork.com/


Called “one of the oldest systems of personal development encompassing body, mind and spirit” by the Journal of the Royal Society of Medicine, yoga has become one of the fastest growing health trends today. It has been renowned for centuries for its curative powers of movement.

Yoga consists of a number of “asnas,” or body positions, which one retains for a desired length of time while either reciting “mantras” or breathing in a rhythmic manner. Its benefits have been researched by many doctors who now recommend it to their patients, by many medical schools such as Harvard, and by many foundations such as the Menninger Foundation.

In fact, yoga has become so popular that secretaries have developed a simplified sitting version that they can do at their desks. The elderly, pregnant women and athletes also have their own versions.

Interestingly, for the millions of people enrolled in yoga classes, the Islamic form of prayer has provided Muslims for fourteen centuries with some of yoga’s same (and even superior) benefits. This simple form of “yoga” offers physical, mental, and spiritual benefits five times a day as Muslims assume certain positions while reciting Qur’an and athkar (remembrances).

Of course, not all the yoga positions are found in the Islamic prayer. However, hospital researchers have concluded that patients benefit from even a simplified version of yoga, and most hospital yoga programs, such as those at the Spaulding Rehabilitation Center in Massachusetts, consist of only five to seven positions.

The Muslim prayer has five positions, and they all (as well as the recitations we make while performing the prayer) have a corresponding relationship with our spiritual and mental well being, according to modern scientific research. The benefits of performing specific movements and recitations each day come from the correct rendition of the position or action itself, the length of time the position is held, and from careful and correct recitation techniques.
Each of the five prayer positions has a corresponding yoga position, and the positions together “activate” all seven “chakras” (energy fields) in the body. The idea of activating a chakra may sound linguistically strange, but it is easier to understand once one translates that word into more familiar language.
Eastern healers believe that each of the chakras correlate to major nerve ganglia that branch forth from the spinal column. Thus, the concept of activating these nerve centers is akin to getting a chiropractic adjustment or installing a medical stimulating device on the spine to correct corresponding bodily malfunctions.
In layman’s terms, the idea of chakras can be understood by thinking about how the sense of “feeling” functions. One notices, when touching any part of the body, that that part responds by being more “awake” and aware.
Another part of the body that was not touched, but is along the same nerve pathway, may also respond.
When a person is sitting, for instance, they may not be thinking about their legs, which are momentarily at rest; however, if someone touches them, they will again be “aware” of them. Chakras work in much the same way.
Studies have found that varying areas of the body, when activated by touch, movement or thought, evoke specific emotional and physical responses in much the same way that a smile can evoke the feeling of happiness, and actually increase circulation – even if one was feeling sluggish and unhappy before smiling. This is one of the reasons that it is so important to perfectly perform all of the movements of the Islamic prayer, rather than haphazardly rushing through them.
The Takbir and Al Qiyyam together are very similar to the Mountain Pose in yoga, which has been found to improve posture, balance, and self-awareness. This position also normalizes blood pressure and breathing, thus providing many benefits to asthma and heart patients.
The placement of the hands on the chest during the Qiyyam position are said to activate the solar plexus “chakra,” or nerve pathway, which directs our awareness of self in the world and controls the health of the muscular system, skin, intestines, liver, pancreas, gallbladder and eyes. When the hands are held open for du’a, they activate the heart “chakra,” said to be the center of the feelings of love, harmony, and peace, and to control love and compassion. It also governs the health of the heart, lungs, thymus, immune system, and circulatory system.
Muslim researchers have shown that when Muslims recite the Qur’an, old thoughts, feelings, fears and guilt are released or healed, and blood pressure and stress levels are reduced. Virtually all of the sounds of the Arabic language are uttered while reciting Qur’an, creating a balance in all affected areas of the body.
Some specific sounds, in fact, correspond to major organs in the body. In his research and creation of eurhythmy, Rudolph Steiner (founder of the Waldorf Schools), , found that vibrations made when pronouncing the long vowels, 'A', 'E' and 'U,' stimulated the heart, lungs, and the thyroid, pineal, pituitary, and adrenal glands during laboratory tests.
The position of Ruku is very similar to the Forward Bend Position in yoga. Ruku stretches the muscles of the lower back, thighs, legs and calves, and allows blood to be pumped down into the upper torso. It tones the muscles of the stomach, abdomen, and kidneys. Forming a right angle allows the stomach muscles to develop, and prevents flabbiness in the mid-section.

This position also promotes a greater flow of blood into the upper regions of body – particularly to the head, eyes, ears, nose, brain, and lungs – allowing mental toxins to be released. Over time, this improves brain function and ones personality, and is an excellent stance to maintain the proper position of the fetus in pregnant women.
The Sujud is said to activate the “crown chakra,” which is related to a person’s spiritual connection with the universe around them and their enthusiasm for spiritual pursuits. This nerve pathway is also correlated to the health of the brain, nervous system, and pineal gland. Its healthy function balances ones interior and exterior energies.
In Sujud, we also bend; thus activating the “base chakra,” which controls basic human survival instincts and provides essential grounding. This helps to develop levelheaded and positive thinking along with a highly motivated view of life, and maintains the health of the lymph and skeletal systems, the prostate, bladder, and the adrenal glands. We also bend the “sacral chakra” during Sujud, thus benefiting and toning the reproductive organs.
The position of Al Qaadah, (or Julus) is similar to the Thunderbolt Pose in yoga, which firms the toes, knees, thighs, and legs. It is said to be good for those prone to excessive sleep, and those who like to keep long hours. Furthermore, this position assists in speedy digestion, aids the detoxification of the liver, and stimulates peristaltic action in the large intestine.
Last, but not least, the “throat chakra” is activated by turning the head towards first the right and then the left shoulder in the closing of the prayer. This nerve path is linked to the throat, neck, arms, hands, bronchials, and hearing – effecting individual creativity and communication.

It is believed that a person who activates all seven nerve pathways at least once a day can remain well balanced emotionally, physically and spiritually. Since this is the goal of all sincere Muslims, we all should strive to attain the perfection of stance, recitation, and breathing recommended in the Hadith while performing our prayers – the very same techniques of perfection taught in popular yoga, Tai Chi, and many other exercise classes.

Friday, February 20, 2009

how cat stevents become a muslim

All I have to say is all that you have known and to confirm what you have known, the message of the Prophet Muhammad (Sallallahu alaihi wa sallam) as given by God - the Religion of Truth. As human beings, we are given a consciousness and a duty that has placed us at the top of creation. Man was created to be God's deputy on earth, and it is important to realize the obligation to rid ourselves of all illusions and to make our lives a preparation for the next life. Anybody who misses this chance is not likely to be given another, to be brought back again and again, because it says in Qur'an Majeed that when man is brought to account, he will say, "O Lord, send us back and give us another chance." The Lord will say, "If I send you back you will do the same."


MY EARLY RELIGIOUS UPBRINGING

I was brought up in the modern world of all the luxury and the high life of show business. I was born in a Christian home, but we know that every child is born in his original nature - it is only his parents that turn him to this or that religion. I was given this religion (Christianity) and thought this way. I was taught that God exists, but there was no direct contact with God, so we had to make contact with Him through Jesus - he was in fact the door to God. This was more or less accepted by me, but I did not swallow it all. I looked at some of the statues of Jesus; they were just stones with no life. And when they said that God is there, I was puzzled even more but could not argue. I more or less believed it, because I had to have respect for the faith of my parents.


POP STAR

Gradually I became alienated from this religious upbringing. I started making music. I wanted to be a big star. All those things I saw in the films and on the media took hold of me, and perhaps I thought this was my God, the goal of making money. I had an uncle who had a beautiful car. "Well," I said, "he has it made. He has a lot of money." The people around me influenced me to think that this was it; this world was their God. I decided then that this was the life for me; to make a lot of money, have a 'great life.' Now my examples were the pop stars. I started making songs, but deep down I had a feeling for humanity, a feeling that if I became rich I would help the needy. (It says in the Qur'an, we make a promise, but when we make something, we want to hold onto it and become greedy.) So what happened was that I became very famous. I was still a teenager, my name and photo were splashed in all the media. They made me larger than life, so I wanted to live larger than life and the only way to do that was to be intoxicated (with liquor and drugs).


IN HOSPITAL

After a year of financial success and 'high' living, I became very ill, contracted TB and had to be hospitalized. It was then that I started to think: What was to happen to me? Was I just a body, and my goal in life was merely to satisfy this body? I realized now that this calamity was a blessing given to me by Allah, a chance to open my eyes - "Why am I here? Why am I in bed?" - and I started looking for some of the answers. At that time there was great interest in the Eastern mysticism. I began reading, and the first thing I began to become aware of was death, and that the soul moves on; it does not stop. I felt I was taking the road to bliss and high accomplishment. I started meditating and even became a vegetarian. I now believed in 'peace and flower power,' and this was the general trend. But what I did believe in particular was that I was not just a body. This awareness came to me at the hospital. One day when I was walking and I was caught in the rain, I began running to the shelter and then I realized, 'Wait a minute, my body is getting wet, my body is telling me I am getting wet.' This made me think of a saying that the body is like a donkey, and it has to be trained where it has to go. Otherwise, the donkey will lead you where it wants to go. Then I realized I had a will, a God-given gift: follow the will of God. I was fascinated by the new terminology I was learning in the Eastern religion. By now I was fed up with Christianity. I started making music again and this time I started reflecting my own thoughts. I remember the lyric of one of my songs. It goes like this: "I wish I knew, I wish I knew what makes the Heaven, what makes the Hell. Do I get to know You in my bed or some dusty cell while others reach the big hotel?" and I knew I was on the Path. I also wrote another song, "The Way to Find God Out." I became even more famous in the world of music. I really had a difficult time because I was getting rich and famous, and at the same time, I was sincerely searching for the Truth. Then I came to a stage where I decided that Buddhism is all right and noble, but I was not ready to leave the world. I was too attached to the world and was not prepared to become a monk and to isolate myself from society. I tried Zen and Ching, numerology, tarot cards and astrology. I tried to look back into the Bible and could not find anything. At this time I did not know anything about Islam, and then, what I regarded as a miracle occurred. My brother had visited the mosque in Jerusalem and was greatly impressed that while on the one hand it throbbed with life (unlike the churches and synagogues which were empty), on the other hand, an atmosphere of peace and tranquillity prevailed.


THE QUR'AN

When he came to London he brought back a translation of the Qur'an, which he gave to me. He did not become a Muslim, but he felt something in this religion, and thought I might find something in it also. And when I received the book, a guidance that would explain everything to me - who I was; what was the purpose of life; what was the reality and what would be the reality; and where I came from - I realized that this was the true religion; religion not in the sense the West understands it, not the type for only your old age. In the West, whoever wishes to embrace a religion and make it his only way of life is deemed a fanatic. I was not a fanatic, I was at first confused between the body and the soul. Then I realized that the body and soul are not apart and you don't have to go to the mountain to be religious. We must follow the will of God. Then we can rise higher than the angels. The first thing I wanted to do now was to be a Muslim. I realized that everything belongs to God, that slumber does not overtake Him. He created everything. At this point I began to lose the pride in me, because hereto I had thought the reason I was here was because of my own greatness. But I realized that I did not create myself, and the whole purpose of my being here was to submit to the teaching that has been perfected by the religion we know as Al-Islam. At this point I started discovering my faith. I felt I was a Muslim. On reading the Qur'an, I now realized that all the Prophets sent by God brought the same message. Why then were the Jews and Christians different? I know now how the Jews did not accept Jesus as the Messiah and that they had changed His Word. Even the Christians misunderstand God's Word and called Jesus the son of God. Everything made so much sense. This is the beauty of the Qur'an; it asks you to reflect and reason, and not to worship the sun or moon but the One Who has created everything. The Qur'an asks man to reflect upon the sun and moon and God's creation in general. Do you realize how different the sun is from the moon? They are at varying distances from the earth, yet appear the same size to us; at times one seems to overlap the other. Even when many of the astronauts go to space, they see the insignificant size of the earth and vastness of space. They become very religious, because they have seen the Signs of Allah. When I read the Qur'an further, it talked about prayer, kindness and charity. I was not a Muslim yet, but I felt that the only answer for me was the Qur'an, and God had sent it to me, and I kept it a secret. But the Qur'an also speaks on different levels. I began to understand it on another level, where the Qur'an says, "Those who believe do not take disbelievers for friends and the believers are brothers." Thus at this point I wished to meet my Muslim brothers.


CONVERSION




Then I decided to journey to Jerusalem (as my brother had done). At Jerusalem, I went to the mosque and sat down. A man asked me what I wanted. I told him I was a Muslim. He asked what was my name. I told him, "Stevens." He was confused. I then joined the prayer, though not so successfully. Back in London, I met a sister called Nafisa. I told her I wanted to embrace Islam and she directed me to the New Regent Mosque. This was in 1977, about one and a half years after I received the Qur'an. Now I realized that I must get rid of my pride, get rid of Iblis, and face one direction. So on a Friday, after Jumma' I went to the Imam and declared my faith (the Kalima) at this hands. You have before you someone who had achieved fame and fortune. But guidance was something that eluded me, no matter how hard I tried, until I was shown the Qur'an. Now I realize I can get in direct contact with God, unlike Christianity or any other religion. As one Hindu lady told me, "You don't understand the Hindus. We believe in one God; we use these objects (idols) to merely concentrate." What she was saying was that in order to reach God, one has to create associates, that are idols for the purpose. But Islam removes all these barriers. The only thing that moves the believers from the disbelievers is the salat. This is the process of purification.

Finally I wish to say that everything I do is for the pleasure of Allah and pray that you gain some inspirations from my experiences. Furthermore, I would like to stress that I did not come into contact with any Muslim before I embraced Islam. I read the Qur'an first and realized that no person is perfect. Islam is perfect, and if we imitate the conduct of the Holy Prophet (Sallallahu alaihi wa sallam) we will be successful. May Allah give us guidance to follow the path of the ummah of Muhammad (Sallallahu alaihi wa sallam). Ameen!

-- Yusuf Islam (formerly Cat Stevens)

Tuesday, September 9, 2008

multi level marketing

Isu Shariah Dalam Perniagaan MLM

Oleh : Ust Hj Zaharuddin Hj Abd Rahman
www.zaharuddin.net


Jualan Pelbagai Peringkat atau lebih dikenali sebagai ‘Multi Level Marketing' atau MLM adalah amat popular di Malaysia. Dalam pada masa yang sama, sistem yang sama juga digunakan oleh industri penjualan Saham Amanah Islam dan beberapa produk Takaful. Statistik tahun 2003 menunjukkan industri MLM Malaysia mencatatkan jualan RM 4 bilion dan lebih dari 3 juta orang Malaysia terlibat dalam urusniaga MLM.
Akibat dari kebanjiran produk dan syarikat yang menggunakan sistem ini dalam mempromosi dan penjualan produk mereka. MLM kini boleh dianggap sebagai sebuah sistem pemasaran yang diterima ramai. Bagaimanapun, amat jarang dijumpai ilmuan Shariah samada dalam atau luar negara yang ingin atau berminat untuk menghuraikan sistem ini dari aspek Shariah dengan terperinci dan konkrit. Ini mungkin disebabkan kerumitan atau kurangnya minat ilmuan Shariah untuk mendalami proses sistem ini.
Para ‘Ustaz' dan Multi Level Marketing
Saya juga tidak dapat lari dari dibanjiri soalan demi soalan berkenaan hal ini. Pada awalnya, saya cuba untuk mengelak disebabkan terlampau banyak bentuk dan jenis MLM ini hingga menyukarkan sesiapa juga untuk memandu dan menerangkan hukumnya secara jelas. Di tambah pula mengenagkan pengikut dan pengamalnya yang terlalu ramai dan kebanyakkannya pula kelihatan ‘taksub' dan amat yakin akan halalnya kaedah MLM ini.
Tidak kurang juga terdapat para graduan Shariah atau pengajian Islam yang digelar ‘Ustaz' dan Ustazah' yang juga kuat berkempen produk-produk syarikat dengan skim MLM. Lebih hangat dan meriah lagi, kumpulan ini kerap mendakwa ianya halal lalu diselitkan dengan pelbagai dalil Al-Quran dan Hadith yang menggalakkan umat Islam berniaga, kuat ekonomi dan lain-lain. Hakikatnya, dalil-dalil ini bukanlah khusus untuk menyokong MLM dan perniagaan piramid mereka.
Ikhlas saya ingin nyatakan di sini, agak ramai juga orang ramai yang terpengaruh dengan kempenan dari kumpulan ilmuan agama seperti ini, menyebabkan orang ramai menyertainya tanpa berfikir lagi berkenaan halal atau haramnya sesuatu produk itu kerana ia telah diiktiraf oleh seorang ‘ustaz'. Justeru, saya ingin menasihatkan semua rakan-rakan lulusan Shariah dan Pengajian Islam agar lebih berhati-hati memberikan sebarang hukum dan merujuk dengan lebih mendalam sebelum berkempen dan mendakwa halalnya sesuatu produk hanya semata-mata kerana ia mendapat keuntungan besar di dalamnya. Ini kerana agak ramai juga saya dapati orang ramai yang berkiblatkan ustaz tertentu dalam kempen MLM mereka. Berkatalah Al-Laith bin Sa'ad : « Seandainya orang-orang yang memiliki pemahaman halal dan haram meneliti masalah ini, pastilah mereka tidak akan membolehkannya kerana terdapat di dalamnya unsur perjudian » ( Riwayat Al-Bukhari, no 2346 ). Sayyidina Umar al-Khattab r.a telah mengingatkan:
لا يبع في سوقنا إلا من قد تفقه في الدين
Ertinya : "Jangan seseorang kamu berjual beli di pasar kami, kecuali ia telah mendalami ilmu (hukum) agama tentangnya" ( Riwayat Tirmidzi, no 487, hlm 129 ; Albani : Hasan)
Bagi membantu masyarakat yang semakin ‘hangus' dalam industri ini, saya merasakan adalah elok untuk saya berkongsi panduan umum Shariah dalam hal penggunaan MLM ini. Bagaimanapun, saya tidaklah mampu untuk menujukan tulisan ringkas ini kepada mana-mana jenama MLM yang wujud di Malaysia mahupun luar negara. Tulisan ini hanya memberikan sedikit gambaran dan garis panduan yang diletakkan oleh undang-undang Islam dalam hal MLM ini.
Pengertian MLM
Secara umum ‘Multi Level Marketing' adalah suatu cara perniagaan alternatif yang berkaitan dengan pemasaran yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah ‘Upline' (tingkat atas) dan ‘Downline' (tingakt bawah), orang akan disebut ‘Upline' jika mempunyai ‘Downline'. Pokok utama dari perniagaan MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, sama ada yang bersifat ‘vertikal' atas bawah mahupun ‘horizontal kiri kanan' ataupun gabungan antara keduanya. (Lihat All About MLM oleh Benny Santoso hal: 28, Hukum Syara MLM oleh Hafidz Abd Rahman, MA)
Bentuk MLM yang Haram atau syubhat
Ada beberapa bentuk sistem MLM yang jelas keharamannya atau keraguannya, iaitu apabila ia menggunakan sistem berikut :
1) Harga tinggi dari biasa : Menjual produk yang diperjualbelikan dalam sistem MLM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga biasa, ia adalah amat tidak digalakkan menurut Islam malah menurut sebahagian ulama, aqad seperti ini adalah terbatal. Tatkala itu, ia digelar ‘Gabhnun Fahisyh' menurut istilah ulama Fiqh. Hukum jualan secara ‘Ghabnun Fahisy' ini diperbezakan oleh ulama antara harus, makruh dan haram. (Durar al-Hukkam Fi Syarh Majallah al-Ahkam, klausa no 356, hlm 369). Bagaimana Nabi SAW pernah mengisyaratkannya sebagai suatu kezaliman jika berlaku kepada orang yang tidak mengetahui selok belok harga barang. (Al-Qawaid, Ibn Rusyd, hlm 601)
Bagaimanapun perlu diingat, dalam satu MLM mungkin terdapat 3 atau 4 unsur syubhat dan haram yang akan saya sebutkan. Ini tidaklah bermakna saya mengatakan MLM haram hanya kerana adanya unsur "Harga Lebih Tinggi dari Biasa" , ia cuma salah satu unsur yang perlu disemak dan boleh memburukkan lagi hukum sesuatu MLM sehingga boleh jatuh tahap haram kerana penipuan dalam keadaan tertentu yang lain.
Apa yang ingin saya nyatakan ‘Ghabnun' di sini adalah yang dibuat dalam bentuk penipuan harga kepada orang awam, iaitu harga yang sengaja dinaikkan kerana merangkumkan yuran penyertaan dalam system priamid. Sebagai contoh saya pernah ‘terpaksa' membeli sebuah produk MLM. Oleh kerana tukang jual MLM ini amat sukar beralah, dan saya ingin ia cepat menamatkan kempenanannya dengan adab, lalu saya belilah satu produknya yang termurah, iaitu sebiji bantal yang dikatakan sangat hebat, harganya mencecah RM300 sebiji. Inilah namanya 'Ghabnun', sedangkan bantal tersebut rupa-rupanya langsung tiada istimewanya setelah digunakan. Maka jelas harganya dinaikkan kerana penyertaan sebagai ahli dan masuk dalam sistem. Tapi saya senyapkan saja keahlian dan langsung tidak bergerak, membeli hanya kerana kasihan dengan si penjual yang dikenali ini sahaja.
Inilah maksud saya mempunyai unsur ‘Ghabnun', mungkin unsur ini tidak cukup kuat untuk menjadikannya haram, tetapi ia salah satu unsur yang memberi kesan kepada aqad, kesan ini apabila ia bergabung dengan unsur-unsur syubhat yang lain, ia boleh menjadi haram.
Sebagai Makluman :
Mazhab Hanafi : terbahagi kepada 3 pandangan, iaitu ada ulamanya yang mengatakan ghabnun harus walaupun Fahisyh, kedua : Haram , ketiga : Haram bila ada usnur penipuan sahaja ( Syarh ad-Dur , AL-Haskafi, 2/82 )
Mazhab Maliki : Juga ulama mereka berbagai pandangan : Pertama : Ghabnun Mustrasil samada Yasir atau fahsiyh : Haram ; Kedua : Ghabnun lebih tinggi 1/3 dari harga pasaran biasa tanpa adalah HARAM. ( Al-Qawaid : Ibn Rusyd , hlm 601 ; AL-Qawaid Al-Fiqhiyyah, Ibn Juzay, hlm 294)
Mazhab Syafie : Harus hukumnya kecuali pandangan ganjil dari al-Mutawaali yang mengharamkannya . ( Al-Majmu' , 7/500 )
Mahzab Hanbali : Ibn Quddamah berkata : "Ghabn Mustarsil adala apabila si pembeli membeli dengan harga yang terkeluar dari harga pasaran ... teruatamanya apabila didesak ( agar tak pergi semak kedai-kedai lain dulu) dan cuba disegerakan oleh penjual " ( Al-Mughni , 4/78 )
Justeru, perbincangan panjang tentang 'Ghabn' sebenarnya menunjukkan terdapat jenis 'Ghabn' yang disepakati haramnya oleh ulama, ada yang disepakati halalnya, dan terdapat yang diperbezakan pandangan. Justeru apabila saya sebut 'ghabn' sebagai salah satu sebab boleh jadikan MLM haram, maka ini kerana berkemungkinan jenis yang disepakati haram itu berlaku. Justeru, semasa menulis artikel anda perlu faham target saya. Adakah anda yakin semua jenis 'Ghabn' yang berlaku dalam MLM itu tergolong dari golongan yang harus ?. Jika ye, maka itu pandangan anda , bukan saya. Saya lebih selesa berpandangan ia banyak jenis 'Ghabn' yang berlaku lebih menjurus kepada haram terutamanya apabila hampir semua syarikat-syarikat MLM ini amat mengambil mudah akan hal hukum agama. Jika tidak, pastinya mereka telah mengambil Penasihat Shariah sejak dari awal.


2) Jualan target sebagai syarat komisyen : Selain dari yuran yang wajib dibayar oleh ahli, pada kebiasaannya terdapat syarat yang mewajibkan ahli tersebut mencapai target jualan tertentu bagi melayakkannya mendapat apa jua komsiyen dari hasil jualan orang di bawahnya. Apabila ia gagal mencapai ‘harga target' tersebut maka keahliannya akan hilang atau tiada sebarang komisyen untuknya walaupun orang bawahannya menjual dengan begitu banyak. Semua MLM yang terlibat dengan syarat seperti ini, menyebabkan sistem MLM mereka menjadi bermasalah dari sudut Shariah kerana wujudnya unsur kezaliman terhadap ahli selain wujudnya kewajiban jualan bersyarat dengan syarat yang tidak menyebelahi ahli serta berbentuk penindasan. Seolah-olah pihak syarikat memaksanya dengan mengatakan "Anda mesti membeli atau mengekalkan penjualan peribadi sebanyak RM 500 sebulan bagi membolehkan anda mendapat hak komisyen orang bawahan anda".
Pada asasnya, komisyen yang diambil atas usaha menjual (seperti ‘brokerage fee') sesuatu barangan adalah adalah harus menurut Shariah, ia adalah pandangan ulama besar Tabi'en seperti Muhammad Ibn Sirin, ‘Ato' Bin Abi Rabah, Ibrahim an-Nakha'ie dan ramai lagi (Sohih Al-Bukhari ; Al-Musannaf, 5/242 ; Mawahibul Jalil, 4/452 ). Bagaimanapun, komisyen dalam hal MLM dan system piramdi ini boleh bertukar menjadi haram apabila :-
* Diikat komisyen jualan rangkaiannya dengan sesuatu jualan olehnya, ia menimbulkan masalah dari sudut Shariah seperti unsur pemaksaan, syarat yang tidak sah dalam perwakilan dan perjudian.
* Komisyen datang dari orang bawahan yang langsung tidak dikenalinya kerana sudah terlampau jauh ke bawah. Ini menjadikan orang atasan seolah-olah mendapat untung di atas angina tanpa sebarang kerja dan usaha lagi. Ia juga boleh dikelaskan sebagai broker di atas broker di atas briker di atas broker dan seterusnya. Dalam hal berbilangnya rantaian komsiyen broker ini, menurut perbincangan saya bersama Syeikh Prof. Dr Abd Sattar Abu Ghuddah (Pakar Shariah utama dalam bidang kewangan Islam dunia di Kesatuan Ulama Fiqh Sedunia, AAOIFI, Dow Jones Islamic Index dan lain-lain) ia termasuk dalam konteks memakan harta orang lain dengan bathil selain terdapat unsur judi. Ini adalah kerana ia seolah-olah meletakkan syarat kepada semua orang bawahan samada dengan pengetahuan mereka atau tidak, semua hasil jualan mereka akan diambil sebahagian keuntungannya untuk orang atasnya.
* Dari sudut yang lain, terdapat juga keraguan dalam isu pemberian komisyen di atas usaha dan tugas agen (wakil penjual) atau "brokerage" (tukang kempen). Ini kerana sepatutnya komisyen ke atas "brokerage" tidak harus mensyaratkan tukang kempen itu untuk membeli untuk diri sendiri sebagaimana yang berlaku dalam beberapa jenis MLM. Sesetengahnya pula mensyaratkan ‘broker' atau ‘agen' untuk menjual sendiri sebanyak sekian jumlah bagi memperolehi komisyen jualan broker (ahli) di bawahnya. Dengan sebab-sebab ini, hal ‘broker' atau ‘agen' menjadi syubhah dan tidak lagi benar ianya disifatkan sebagai komisyen wakil atau broker yang diterima Islam.
3) Jika ahli berdaftar menyertai MLM dengan yuran tertentu, tetapi tiada sebarang produk untuk diniagakan, perniagaannya hanyalah dengan mencari orang bawahanya (downline), setiap kali ia mendapat ahli baru, maka diberikan beberapa peratus dari yuran ahi tersebut kepadanya. Semakin banyak anggota baru bermakna semakin banyak jualah bonusnya. Ini adalah bentuk riba kerana memperdagangkan sejumlah wang untuk mendapat sejumlah lebih banyak yang lain di masa hadapan. Ia merupakan satu bentu Riba Nasiah dan Riba Al-Fadl. Hal yang sama juga hukumnya bagi perusahaan MLM yang tidak mempunyai produk bersungguh dan berkualiti, sebaliknya produk miliknya hanyalah berupa ruangan laman web yang tidak berfaedah buat kebanyakkan orang, atau apa jua produk yang hanya dijadikan sebagai alasan pembelian. Malah harga sebenar produknya juga adakalanya jauh dari harga yang dijual kepada ahli (sebagai contoh dijual produk web komputer, sedangkan haragnya jauh lebih tinggi dan si ahli pula tidak mempunyai komputer pun). Pada hakikatnya, si ahli bukannya ingin membeli produk itu, tetapi untuk menyertai rangkaian serta memperolehi wang darinya. Ia juga termasuk dalam yang diharamkan. Hal membeli produk tidak benar dengan niat utama memasuki rangkaian dan mendapat untung dari rangkaian ini telah difatwakan haram oleh Majlis Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Arab Saudi no 15/192-193.
4) Terdapat juga syarikat MLM yang melakukan manipulasi dalam menjual produknya, atau memaksa pembeli untuk menggunakan produknya atau yang dijual adalah barang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun tidak semua MLM begini, cuma sebahagianya sahaja.
5) Terdapat juga unsur mirip "shafqatayn fi shafqah", atau bay'atayn fi bay'ah, (iaitu dua aqad jenis jual beli dalam satu) yang dilarang oleh Baginda SAW dengan pelbagai lafaz antaranya : "
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صفقتين في صفقة واحدة
Ertinya : "Rasulullah SAW melarang dari membuat dua belian (aqad) dalam satu aqad" ( Riwayat Ahmad, Al-Bazzar ; Al-Haithami : perawi Ahmad adalah thiqah ; 4/84 )
Ini berlaku apabila ada sebahagian syarikat MLM yang membuka pendaftaran ahlinya, setiap ahli perlu membayar sejumlah wang disebut yuran, tidak dapat dipastikan samada yuran tersebut untuk membeli kedudukan di dalam rangkaian ataupun membeli produk. Pada waktu yang sama, dengan termeterainya keahliannya itu, ia akan menjadi wakil pula bagi syarikat untuk merekrut ahli baru, maka tindakan MLM seperti ini, boleh dikatakan termasuk dalam kategori hadis : shafqatayn fi shafqah, atau bay'atayn fi bay'ah. Ini kerana, dalam hal ini, orang tersebut telah dikira melakukan transaksi aqad Mu'awadat (kontrak pertukaran hak kewangan) bila membeli produk atau menjadi ahli dan dalam masa yang sama masuk dalam satu jenis aqad lagi iaitu perwakilan (untuk menjualkan produk itu kelak di samping mencari ahli baru) dengan komisyen tertentu. Maka, praktis seperti ini jelas tergolong sebagaimana hadith di atas.
Ingin saya tekankan juga, hal berkaitan komisyen jualan orang di level keseratus akan diperolehi juga oleh upline di tingkat kedua, padahal mereka tiada sebarang kaitan aqad yang jelas, dan hanya kerana rantaian orang dibawahnya maka ia mendapat untung?. Apa yang diletakkan untuk mendapat untung?.
Sedangkan dalam contoh sebuah syarikat besar, seorang pemegang saham sememang layak dapat untung walaupun goyang kaki kerana ia meletakkan 'modal', sebagaimana yang diketahui , keuntungan boleh didapati dari tiga sebab iaitu 1) Modal 2) Kerja 3) Jaminan 'Dhoman' barangan dari sebarang aib pada barang yang dijual.
Lalu si pemegang modal berhak mendapat untung kerana ia letak modal, si pekerja layak mendapat untung kerana ia bekerja .. jadi apa hak si upline kedua untuk dapat untung jualan si downline ke seratus? Tiada modal, tiada kerja, tiada jaminan atau dhoman barangan yang dijual, kernaa jaminan barangan yang dijual adalah dari syarikat, bukan upline!.
Apa Maksud Sebenar Dua Aqad Dalam Satu ?
Shafqatain di Safqah dan lafaz yang seertinya denganya memang tidak dinafikan mempunyai banyak takrif dan tafsiran menurut kefahaman ulama yang berbeza. Manakala sesiapa yang hanya mendedahkan hanya beberapa kerat dari pandangan tersebut dan kemudian terus memegangnya. Tapi perlu diingat disana terdapat pelabagi tafsiran yang lain pula, dan saya memegang tafsiran yang lain. Maka itu tidak bererti tafsiran pegangan saya adalah salah, dan tafsiran pegangan anda mesti betul. Jika demikian perangainya, maka ini jelas tidak faham konsep ikhtilaf dalam nas.
Sebagai hadiah untuk awam dan pembaca yang mampu faham ini beberapa tafsiran tentang hadith dua aqad dalam satu mengikut beberapa kumpulan ulama silam dan kaitannya dengan MLM:-
1) iaitu contoh berkata penjual kepada pembeli : " Aku jual kepadamu baju ini dengan harga RM 10 tunai , atau RM 20 secara tangguh" , maka si pembeli bersetuju TANPA mengspecifickan plan tangguh atau tunai yang dikehendakinya. Ini bentuk yang ditafsirkan oleh Imam Malik, Abu Hanifah, At-Thawri, Ishak Rahawaih, Imam As-Syafie ( Syarh as-Sunah, Al-Baghawi, 8/142 ; ‘Aridathul Ahwazi, 5/240 ; Al-Mughni, Ibn Quddamah, 6/333; Al-Mudawwanah, 9/191 ).
Tiada khilaf di kalangan ahli ilmu, jenis ini adalah HARAM. Bagaimanapun tafsiran ini tidak berapa berkaitan dengan MLM, kerana biasnaya plan harga akan dipilih dengan tepat.
2) Iaitu contohnya pembeli : "jualkan kepadaku barangan ini dengan harga RM 10 tunai atau dengan sebuah radio pada tarikh akan datang", kemudian kedua-dua bersetuju tanpa memberikan yang mana satu mereka inginkan. Ini adalah tafsiran Imam Malik pula ( ‘Aridathul Ahwazi, 5/240 ) . Ini juga tiada kaitan dengan MLM.
3) Iaitu contohnya berkata seorang lelaki : "Aku jual kebunku ini dengan harga RM 10,000 dengan syarat kamu jualkan rumah kamu pula dengan harga RM 15,000" . Inilah juga tafsiran ulama mazhab Hanafi, Hanbali dan Syafie. ( Al-Mughni , 6/332 ; Al-Um, 3/67 ; ‘Aridatul Ahwazi, 5/239 )
Inilah tafsiran yang saya lihat ada kaitannya dengan kebanyakkan MLM. Iaitu berkata syarikat MLM kepada seorang ahli baru sebagai contoh : "aku jual barang water filter ini dengan harga RM 2000 dengan syarat engkau jadi wakil jualanku dengan komisyen sebanyak 3 % dari harga jualanmu dan aku beri mandate kamu untuk jadi lantik ahli baru dan setiap jualannya kamu akan dapat 1 % dengan syarat kamu ada jualan sendiri sebanyak RM 1000 setiap bulan"
Lihat, dalam contoh saya tu ada berapa jenis aqad muawadah maliah yang bersifat lazim?
a- Jual barang RM 2000 - Aqad jual beli yang bersifat lazim
b- Lantik jadi wakil dengan upah (Wakalah bil Ujr) - aqad wakalah yang bersifat lazim.
c- Beri mandate untuk cari ahli - ini tiada masalah
d- Setiap ahli yang kamu lantik jual kamu layak dapat 1% - Ini ju'alah, juga kelihatan tiada masalah.
e- Kamu hanya layak dapat 1 % ju'alah tadi dengan syarat kamu ada jualan sendiri RM 1000 - Ini ada syubhat sikit syarat seperti ini. Perlu perbincangan dan ijtihad.
Cuma, secara umum kita dapat melihat bergabungnya dua aqad mu'awadat maliah (pertukaran hak milik harta) yang bersifat Lazim. Jika aqad itu ghayru Lazim maka ia diharuskan, tetapi dalam hal ini dua aqad itu adalah "aqad lazim"
4) Iaitu seorang penjual menjual dua barangan berlainan harga iaitu kasut dengan harga RM 100 dan handphone dengan harga RM 700, tetapi ia membuatnya terikat, iaitu jika anda beli handphone, maka pembelian kasut juga menjadi wajib. Inilah takrif yang dipegang oleh Al-Qadhi Ibn Al-Arabi al-Maliki ( Al-Qabas Syarah Al-Muwatta', 2/842 ; Al-Muntaqa , 5/36) .
Ini juga mempunyai sedikit kaitan dengan MLM kerana meletakkan syarat satu aqad lain sebagai syarat untuk sesuatu aqad itu boleh ‘concluded'.
5) Iaitu contohnya : Berkata penjual : " Aku jual handphone ini dengan RM 100 dengan bayaran ansuran dalam 3 bulan, dengan syarat aku akan belinya semual darimu dengan harga RM 80 tunai" . Ini adalah tafsiran Ibn Taymiah dan Ibn Qayyim pula. Ia adalah sama dengan takrif Bai Inah. ( Mukhtasar Al-Fatawa Lib Ibn taymiah, hlm 327 ; Tahzib Mukhtasar Sunan Abi Daud, Ibn Qayyim, 5/100 )
Tafsiran ini agak kurang kaitannya dengan MLM.
Demikianlah beberapa takrifan dan tafsiran ulama tentang hadith dua aqad dalam satu. Sebenarnya ada terdapat 3 lagi tafsiran, Cuma cukuplah sebagai info tambahan kepada pembaca. Oleh kerana beberapa yang dilakukan dalam MLM ada terdapat dalam salah satu tafsirannya, maka saya masukkan point dua aqad di dalam satu sebagai isu yang boleh menjadikan MLM samada haram atau batal atau syubhat.
Keputusan Majma Fiqh Sedunia ?
Kesatuan Fiqh Sedunia (Majma' Fiqh Islami) pernah mengeluarkan fatwa ke atas satu bentuk perniagaan MLM jenama PT Biznas yang disifatkan sebagai haram kerana ia adalah salah satu bentuk perjudian. Selain itu, keputusan itu juga menafikan bahawa komisyen yang digunakan adalah komisyen atau upah ‘brokerage' sebagaimana didakwa. (Rujuk keputusan nombor 3/24, 17 Julai 2003). Selain itu, Syeikh Salim Al-Hilali pernah mengeluarkan fatwa pengharaman dengan katanya : "Banyak pertanyaan berkenaan perniagaan yang diminati ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti kaedah piramid dalam sistem pemasarannya, dengan cara setiap anggota harus mencari ahli-ahli baru dan demikian selanjutnya. Setiap anggota membayar yuran pada syarikat dengan jumlah tertentu dengan angan-angan mendapat bonus, semakin banyak anggota dan memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenarnya kebanyakan anggota MLM yang menyertai cara ini adalah hasil motivasi bonus yang dijanjikan tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin, padahal ia langsung tidak menginginkan produknya. Perniagaan jenis ini adalah perjudian murni, kerana beberapa sebab berikut, iaitu:
Ø Sebenarnya anggota MLM ini tidak mahukan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah menyertai rangkaian piramid bagi mendapatkan kekayaan cepat apabila setiap ahli baru membayar yuran.
Ø Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari wang yang dibayarkan pada syarikat MLM.
Ø Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan individu secara berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Upline) sedangkan level bawah (downline) selalu memberikan nilai point pada yang berada dilevel atas mereka.
Justeru, saya kira, amat tipis untuk mencari MLM yang tidak tergolong dalam item-item salah yang saya sebutkan di atas, malah saya juga suka menyarankan agar pengamal-pengamal jualan amanah saham dan Takaful secara wakil untuk lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam bab MLM. Bagaimanapun, jika anda masih ingin mendakwa halalnya MLM ini, saya sarankan agar pengamal MLM memastikan asas minima Shariah berikut dapat dipatuhi :-
1. Produk MLM ini mestilah dibeli dengan tujuan yang sebenarnya (seperti produk yang benar-benar bermanfaat dan dibangunkan dengan serius seperti ubat-ubatan berkualiti, unik dan lainnya). Justeru, produk MLM yang kabur kualiti dan kegunaannya tidaklah dibenarkan kerana ia hanyalah bertujuan untuk mengabui dalam undang-undang dan hukum Shariah, ia tiadalah halal di sisi Shariah. Justeru, kekuatan MLM itu ialah kepada produknya yang bermutu dan bukan kepada objektif jangka pendek mengumpul dana (modal).
2. Produknya bukan emas dan perak yang boleh dijual beli secara tangguh. Ini kerana penjualan barangan emas secara tangguh adalah Riba jenis Nasiah.
3. Komisyen yang diberikan kepada ahli untuk setiap penjual dan ahli bawahannya mestilah jelas. Tiada komisyen tanpa usaha, ini bermakna orang atas hanya berhak mendapat komisyen dari ahli bawahan yang dibantunya sahaja.
4. Keuntungan dan komisyen bukan berdasarkan ‘kepala' atau ahli yang ditaja, tetapi adalah berdasarkan nilai produk yang berjaya di jualnya. Ini diperlukan bagi membuktikan ia menumpukan kepada perniagaan penjualan produk dan perkhidmatan dan bukannya permainan wang (money game).
5. Tidak diwajibkan bagi si ahli menjual jumlah tertentu bagi memperolehi komsiyen dari orang bawahannya.
6. Setiap ‘upline' atau orang di sebelah atas mestilah menaruh usaha atas jualan orang bawahannya, seperti mengadakan perjumpaan taklimat, motivasi dan teknik berkempen secara terancang seperti sebuah syarikat yang pelbagai ahlinya. Ia perlu bagi melayakkannya menerima komisyen itu dari sudut Shariah, jika tidak adalah dibimbangi ia akan terjerumus kepada keraguan ‘syubhah'. Ini kerana konsep niaga dalam Islam tidak membenarkan suatu keuntungan dari sesuatu perniagaan yang diperolehi tanpa usaha. Justeru, sedikit usaha perlu dicurahkan bagi menjadi sebab haknya ke atas komisyen. Perlu diingat, kebanyakan ahli di kaki yang 10 ke bawah, mungkin tidak mengenalinya lantaran ia dilantik oleh orang bawahannya yang kesembilan. Jika tidak, apakah haknya untuk mendapat komisyen yang demikian berangkai dan begitu jauh ?.
7. Tidak menggunakan skim piramid iaitu skim siapa masuk dulu akan untung selamanya. Manakala hak mereka yang masuk kemudian akan berkurangan. Justeru, plan pemasaran mestilah memberikan hak kepada semua, malah orang bawahan mampu mendapat keuntungan lebih dari orang atasannya, apabila ia mampu menjual dengan lebih hebat.
8. Mempersembahkan system komisyen dan bonus yang telus dan boleh difahami dan dipantau oleh ahli dengan jelas. Ia bagi mengelakkan segala jenis penipuan.
9. Menstruktur plan pemasaran di anatara ahli dan orang bawahannya secara musyarakah iaitu perkonsgian untung dan rugi berdasarkan modal masing-masing dengan nisbah pembahagian keuntungan yang ditetapkan di peringkat awal lagi.
Mana MLM alternatif??
"Kalau ustaz pandai sangat, kenapa tak tuliskan sahaja macam mana MLM yang menepati Shariah tu, biar orang boleh guna" Demikian tempelak seorang pemuda tanpa kesabaran melalui sebuah web.
Jawapan saya seperti berikut :-
Pertama : Memang ramai 'suruh', 'arah' dan minta saya sebutkan macam mana MLM yang harus serta realistik.
Inilah masalah orang ramai, tidak berfikir mendalam sebelum meminta. Kita kena faham, tak semua yang perniagaan diasakan ikut cara yang menpeati Shariah itu menarik pada pandangan mata orang ramai dan boleh laku untuk dijual di Malaysia, dan tak semua pula plan dan skim atau produk yang sangat boleh dijual dan menarik itu menepati hukum Shariah. Jadinya bagi menghasilkan satu plan hebat yang menepati Shariah dan boleh jual, perbincangan dua pihak antara Ilmuan Shariah & bisnesman amat perlu dalam hal ini.
Mana mungkin sebuah plan pemasaran MLM terbaik dapat dicadangkan hanya dengan mengemukakan permintaan mudah begitu sahaja kepada saya, ini kerana mungkin saya mempunyai penyelesaian dari sudut teori Shariahnya. Teori ini pula sebahagiannya bersifat fleksible dan tidak sebahagian yang lain, kerana itu perbincangan diperlukan dengan pihak pakar pemasaran demi memastikan samada ia 'viable' untuk diperkenalkan atau tidak. Kerana saya bukanlah pakar dalam bab pemasaran.
Kedua : Saya juga bukanlah seorang jutawan yang membolehkan saya memperkenalkan plan bisnes MLM contoh yang hebat dan menepati Shariah. Mudahnya, selagi tiada bisnesman Muslim yang punyai perhatian kuat tentang halal haram dan berkesudian berbincang dengan orang Shariah, selagi tu tidak akan didapati plan dan skim MLM alternatif yang menepati Shariah.
Untuk maklumat, proses inilah yang amat kerap kami (ilmuan Shariah sedunia, saya dan rakan-rakan ustaz di semua institusi kewangan Islam seluruh dunia) ; iaitu kami duduk berjam-jam dengan pakar pemasaran, peguam untuk mencipta produk kewangan Islam yang halal serta dalam masa yang sama aqad-aqadnya juga halal dan boleh diaplikasikan di sisi undang-undang Malaysia. Kesimpulan saya, jika hanya ada satu pihak sahaja yang bersungguh, ia pasti akan menjadi hasrat yang terbengkalai juga.
Akhirnya, saya tahu bahawa hukum MLM ini masih terbuka untuk perbincangan, malah Syeikh Dr Abd Sattar Abu Ghuddah ketika perbincangan dengan beliau mengakui ini isu yang agak baru baginya. Benar, amat sukar ditemui tulisan para ulama Islam dari Timur Tengah berkenaan hal MLM ini, disebabkan MLM belum masuk ke pasaran negara Arab dengan meluas. Justeru, menjadi tanggungjawab para ilmuan Shariah Asia Tenggara untuk membantu masyarakat untuk mengetahui pandangan Shariah tentang MLM ini. Tulisan ringkas saya hanyalah pandangan awal bagi memberi peringatan bahawa dengan sekadar pandangan, kelihatan begitu banyak keraguan boleh muncul dalam perniagaan MLM ini. Tidak perlulah pembaca merasa marah dan benci dengan tulisan ini. Ini sekadar nasihat bagi mereka yang mengambil berat tentang pendapatan serta memikirkan barzakh dan akhirat mereka yang kekal abadi.

Wallahu ‘alam.